Selasa, 15 Mei 2012
Abramovich berani bayar 200 juta Euro untuk Messi
Pemilik Chelsea Roman Abramovich rupanya masih belum juga menyerah untuk mendapatkan tanda tangan Josep Guardiola. Sudah banyak diketahui bahwa Guardiola adalah pelatih idaman Abramovich untuk Chelsea.
Abramovich sudah menggoda Pep dengan gaji sebesar 12 juta Euro per musim, gaji yang akan menjadikan Pep sebagai pelatih dengan gaji terbesar di dunia. Pep tetap menolak dengan alasan ingin istirahat dari hingar bingar dunia sepakbola selama satu musim penuh.
Dua kali ditolak Pep, Abramovich melancarkan jurus baru untuk merayu sang pelatih. Abramovich berencana membuat deal transfer sensasional dengan memboyong Lionel Messi ke Chelsea.
Menurut media Spanyol El Confidential, Abramovich yakin bahwa Guardiola akan setuju berlabuh di Stamford Bridge jika Messi juga berada di The Blues. Roman Emperor bahkan tidak peduli jika harga Messi mencapai 200 juta Euro.
Messi memang masih sangat betah di Barcelona. Namun dia juga tidak menyembunyikan kekecewaannya ketika tahu Pep akan mundur dari Blaugrana. Hal itulah yang membuat Abramovich yakin bahwa Pep dan Messi akan bisa didapat jika mereka didatangkan secara bersamaan. (tri/hsw)
Sumber: merdeka | Berita Sukhoi
Jumat, 11 Mei 2012
Kagawa merapat ke Old Trafford?
Bek Jerman Mats Hummels mengaku yakin bahwa rekan seklubnya yang tengah diincar Manchester United, Shinji Kagawa, tak akan memperkuat Borussia Dortmund lagi musim depan.
Dengan 28 gol dari 69 penampilan dalam kurun waktu dua tahun bersama Dortmund, Kagawa gencar dikabarkan akan hengkang dari Westfalenstadion.
Gelandang serang 23 tahun tim nasional Jepang itu meningkatan spekulasi seputar masa depannya dengan mengklaim akan hijrah ke United pada akhir musim nanti.
Hummels menilai, keputusan Kagawa untuk menunda perpanjangan kontrak merupakan isyarat kuat perpisahannya dengan sang raja Bundesliga.
"Shinji adalah pemain kelas dunia, tapi jujur saja, saya merasa dia takkan bermain bersama kami lagi musim depan," tutur Hummels pada Bild. "Jika tidak, pasti sekarang dia sudah memperpanjang kontraknya."
"Saya tidak khawatir meski dia harus pergi. Kualitas tim dipastikan tidak berkurang, karena kami akan mendapatkan Marco Reus."
Selain United, dua klub elit Premier League lainnya juga dikabarkan berminat memakai jasa Kagawa, yaitu Arsenal dan Tottenham. (f365/gia)
Sumber: merdeka
Dalam setahun, polisi Jerman hanya tembakkan 85 peluru
Laporan tahunan Kepolisian Jerman menunjukkan para petugas di negara itu tidak gatal menembak. Selama 2011, total hanya ada 85 peluru digunakan buat melumpuhkan penjahat.
Data itu dilansir oleh harian Der Spiegel, Jumat (11/5), dan segera jadi bahan perbincangan media-media seluruh dunia, terutama di Amerika Serikat. Lebih mencengangkan lagi, dari seluruh tembakan itu, polisi Jerman cuma menewaskan enam orang.
Secara lengkap, kepolisian Jerman pada 2011 melakukan 49 kali tembakan peringatan dan 36 tembakan buat melumpuhkan kriminal. Hasilnya, selain enam orang tewas, ada 15 penjahat cedera.
Prestasi pihak kepolisian dalam hal efektivitas penggunaan senjata api dipuji politikus Jerman. Salah satu anggota Partai Kristen Demokratik (CDU) Lorenz Caffier menilai minimnya polisi menghamburkan peluru merupakan tanda mereka beradab. "Petugas kepolisian kita terbukti bukan preman yang diberi seragam," kata Caffier.
Menanggapi data dari Jerman itu, media-media Amerika langsung memajang kritik buat kepolisian di negara mereka. Harian the Atlantic Wire menyatakan di tajuk rencana hari ini, jumlah 85 peluru polisi Jerman setara peluru yang digunakan buat membekuk penjahat dalam sehari di Negeri Paman Sam itu.
Contohnya, pengejaran polisi terhadap pengendara mabuk di Kota Los Angeles bulan lalu memuntahkan lebih dari 90 peluru. Sepekan sebelumnya, kepolisian New York (NYPD) menembakkan 84 peluru buat menghabisi tersangka pembunuhan. Parahnya si penjahat tetap hidup meski diberondong timah panas, seperti dilaporkan New York Post.
Penggunaan senjata api oleh petugas selalu jadi kontroversi di tiap negara maju. Sejak 2001 hingga tahun ini, lembaga pencatat pelanggaran hak asasi Amnesty International melansir data ada 500 orang dari seluruh dunia yang tewas akibat tembakan petugas keamanan, termasuk di Indonesia.� Singapura dan Swiss adalah negara dengan tingkat kekerasan senjata api terendah di dunia.
Sumber: merdeka
Kamis, 10 Mei 2012
Tupolev dan Yakovlev, pendahulu Sukhoi Superjet 100
Sukhoi Superjet 100, yang jatuh di Gunung Salak, Jawa Barat, merupakan kebanggaan warga Rusia. Bagaimana tidak, pesawat yang diproduksi Sukhoi Civil Aircraft (UAC) ini adalah pesawat komersil pertama yang berhasil dibuat Rusia pascakeruntuhan Uni Soviet pada 1991.
Rusia pasca-Soviet memang pernah membuat pesawat komersil. Namun semua pesawat komersil Negeri Beruang Merah itu gagal uji kelaikan terbang di level internasional. Sukhoi Superjet 100 inilah satu-satunya yang memperoleh sertifikat internasional.
Sebelum Sukhoi Superjet 100, Rusia dikenal dengan pesawat komersil Tupolev Tu-134 dan Yakovlev Yak-42. Karena dibuat sejak era Soviet, duat pesawat ini kian menua dan kerap mengalami kecelakaan.
Tupolev Tu-134 merupakan pesawat penumpang jet buatan biro desain Tupolev, Rusia. Pesawat ini terbang perdana pada tanggal 29 Juli 1963. Pembuatan pesawat ini diperintahkan oleh Nikita Krushchev, pemimpin Uni Soviet saat itu, untuk menyaingi Sud Aviation Caravelle, pasca kunjungannya ke Paris, Prancis.
Seperti pesawat-pesawat buatan Uni Soviet lainnya, Tu-134 mampu mendarat di landasan kasar (tanah, rerumputan, maupun salju). Sejak 2003, Tu-134 (juga Tu-154) tidak diperbolehkan lagi terbang ke Uni Eropa akibat kebisingan yang tinggi. Namun, beberapa pesawat jenis ini telah dimodifikasi sebagai pesawat pribadi atau jet korporat.
Setelah era Tupolev Tu-134, Rusia juga memiliki Yakovlev Yak-42. Kedua pesawat ini mirip. Bedanya, Tupolev Tu-134 dengan dua mesin jet, sementara Yakovlev Yak-42 tiga mesin jet. Pesawat ini pertama kali diproduksi pada tahun 1980.
Kini generasi muda pesawat komersil negari Lenin itu sedang dirundung masalah karena mengalami kecelakaan di Gunung Salak, Jawa Barat. Sulit memprediksi nasib industri dirgantara Rusia pascakecelakaan ini. Namun, kejayaan Rusia di udara era Soviet, tentu sedang ditunggu dunia.
Sumber: merdeka
Langganan:
Postingan (Atom)